Poliandri dan Pembingkaian Seksualitas Perempuan di Media

Cerita poliandri N kali pertama menyeruak lewat sebuah video yang viral di media sosial. Melansir dari laman Parapuan, adegan dalam video tersebut menampilkan perempuan yang diusir oleh warga kampung akibat ketahuan menikah siri tanpa sepengatahuan suami pertama.


Di awal-awal pemberitaan, sejumlah media daring menampilkan cerita N dengan pemberian judul yang fantastis. Menyoroti N sebagai perempuan dengan nafsu seksual yang besar sehingga bercinta dengan sang suami ke-2 sebanyak tiga kali dalam sehari. Sungguh menjijikkan saat urusan ranjang orang lain yang semestinya bersifat privat malah diumbar oleh media high profile yang tidak biasa dalam membuat berita esek-esek. And they call it journalism!


Media daring kebanyakan menampilkan sisi sensualitas dari kasus poliandri ini dengan menyoroti seberapa banyak N melakukan hubungan seksual dengan suami barunya dalam sehari.

Sungguh sangat berbeda pembingkaiannya ketika yang ditampilkan adalah cerita tentang laki-laki berpoligami. Media mengglorifikasi sang suami yang mampu “membina” rumah tangga sehingga membuat para istri kompak dan akur. Sementara perempuan yang berpoliandri digambarkan sebagai sosok yang mengedepankan syahwat.


Di sisi lain, tindakan poligami diglorifikasi. Bahkan oleh media seperti Popbela yang merupakan media yang diperuntukkan bagi perempuan.

Perempuan Sebagai Objek Seksual

Telah sejak lama penggambaran citra perempuan dikonstruksi sedemikian rupa lewat kacamata pria. Janice Whinship (1980) dalam Sexuality for Sale mengungkapkan, perempuan pada akhirnya melihat dirinya sebagaimana laki-laki melihat perempuan. Bahkan menikmati seksualitas keperempuanannya pun harus melalui seksualitas pria.


Seksualitas perempuan hanya dihubungkan dengan kemampuan alat reproduksinya yang memiliki rahim dan sel telur, yakni sebagai pembawa (carrier) (Simone de Beauvoir, The Second Sex, 1949). Dengan demikian, atribut yang melekat pada perempuan adalah sebuah citra yang pasif, identik dengan kelembutan. Dalam konteks patriarki, seksualitas perempuan dikontrol dan didomestifikasi sebagai suatu properti yang dimiliki oleh pria (Christ, 2016).


Poligami merupakan representasi dari kekuatan alat reproduksi laki-laki yang menunjukkan dominansinya terhadap (setidaknya) empat alat reproduksi perempuan sekaligus. Dominansi ini semakin diperkuat dengan legitimasi berbagai institusi formal seperti institusi agama, hukum yang diperkuat undang-undang, dan norma yang berlaku di masyarakat.


Di sisi lain, poliandri dianggap sebagai bentuk kelancangan dan hypersexual karena praktiknya sendiri diharamkan oleh agama, hukum negara, dan budaya masyarakat. Perempuan yamg bercinta dengan lebih dari satu laki-laki dipersonifikasi sebagai pribadi binal yang penuh nafsu. Sedangkan lelaki yang berpoligami lantaran sang istri tua sudah menopause dipersonifikasi sebagai lelaki yang masih memiliki kejantanan sehingga wajar bila ingin menikah lagi.


Membingkai Perempuan Secara Seksis

Sejak awal pemberitaan praktik poliandri yang dilakukan N, media telah menyematkan prasangka terhadap N sebab dia adalah seorang perempuan. Alih-alih memperdalam mengenai alasan N melakukan poliandri, media malah mengulik kebiasaan seksual yang seharusnya tidak pernah menjadi pengetahuan publik.


Tentunya tindakan N salah sebab dia telah melakukan kebohongan terhadap para suaminya. Ya, seharusnya kebohongan itulah yang diperdalam oleh media sebagai alasan poliandrinya. Mengapa N membohongi suami-suaminya? Apakah ada faktor psikologis yang membuat pernikahan pertama N tidak bahagia sehingga dia menikah lagi? Apakah N mengalami kekerasan dalam rumah tangga sehingga dia membohongi suaminya? Dan masih banyak mengapa dan kenapa lain yang bisa ditampilkan menjadi berita tanpa harus melabeli N sebagai perempuan dengan hasrat seksual yang besar.


Perempuan, dengan tubuh dan seksualitasnya, hanya dijadikan objek seksual di media yang disesuaikan dengan tradisi patriarki. Sebab itu jika tubuh perempuan melenceng dari kodrat yang telah disepakati dalam tradisi patriarki tersebut, maka perempuan akan dilabeli beragam macam prasangka sebagai perempuan nakal yang tidak memiliki norma.


Bahkan sampai hari ini, media (baik itu media lama maupun media baru) masih menggunakan perspektif maskulinitas dalam membingkai berita yang berkaitan dengan tubuh dan seksualitas perempuan. Jika perspektif ini terus dilanggengkan, selamanya perempuan tidak akan pernah merdeka atas prasangka tubuh yang dibingkai di media.


Tubuh dan seksualitas perempuan akan selalu dipersalahkan, dan dipandang sebagai komoditas seks yang dimiliki oleh pria sehingga dengan demikian harus diatur sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan dalam budaya patriarki.


Penting bagi perempuan untuk lepas dari perspektif ini dan mulai memerdekakan diri atas tubuhnya dari pandangan para pria. Selama ini masih banyak perempuan yang memakai sudut pandang laki-laki dalam memaknai tubuh dan memahami seksualitas mereka. Semisalnya dalam berpakaian yang disesuaikan dengan standar pemikiran apakah laki-laki akan menyukai mereka atau tidak. Apakah perilaku mereka akan membuat laki-laki ill-feel saat berinteraksi dengan mereka?


Sekarang saatnya untuk membebaskan tubuh dari belenggu patriarki. Perempuan memiliki kebebasan atas apa yang ditampilkan dan diekspresikan di media. Perempuan pun harus marah ketika tubuh dan seksualitas mereka dimaknai sebagai komoditas bagi para pelaku media lainnya demi alasan meraih cuan.

20 views0 comments