Persatuan Kemanusiaan Dalam Sebuah Piring Kari

Kekentalan kuah kaldu yang bercampur santan kelapa. Menggelegak bersama aroma dan macam rempah yang berpadu. Warna dari kuning kunyit yang menggugah pandangan mata. Serta bercampurnya bahan-bahan dedaunan herbal dan sayuran serta daging. Aaaah... Siapa yang tak akan jatuh cinta dengan kari?


Setiap tempat makan yang menyediakan kari pasti akan kujajal. Lidah ini akan merekam dan mencoba memilah bumbu-bumbu dapur yang berbaur dalam kuah kari tersebut. Tentu saja nama rumah makan tersebut harus dicatat untuk kunjungan berikutnya agar tak terlupa.


Ya, mencari kari terenak di seluruh dunia telah menjadi tujuan utama kuliner. Kari menjadi semacam obsesi, meskipun dalam setiap jalan-jalan kuliner aku tidak harus makan kari. Tapi jika ada yang menyediakan kari, makanan itu sudah pasti harus ikut dihidangkan di meja.


Lebih Jauh Mengenal Kari

Aku berkenalan dengan kari sejak masih sangat muda. Pastinya umur berapa aku tak ingat. Keakrabanku dengan kari bermula karena keluargaku senang sekali menyajikan makanan tradisional khas Melayu seperti roti jala dan roti canai yang dihidangkan bersama kari kambing. Dari sanalah aku jatuh cinta pertama kali dengan makanan berkuah ini hingga akhirnya berubah menjadi candu.


Pada waktu kelas 5 SD merupakan pertama kalinya aku berkesempatan pergi ke Singapura dan Malaysia. Aku heran karena di sana menemukan roti canai yang tadinya kupikir hanya ada di kampung halamanku di Riau. Dari Papa kemudian aku baru mengetahui jika Malaysia dan Singapura memiliki keterikatan sejarah dengan Riau. Bahwa ternyata pendiri Kerajaan Siak Sri Indrapura adalah Raja Johor Sultan Abdul Jalil Syah yang melarikan diri dari kejaran Portugis. Bahwa ternyata nama Singapura disebutkan pertama kali oleh Sang Nila Utama, pangeran dari Palembang yang menikahi putri Ratu Bintan Parameswari Iskandar Shah.


Manusia selalu datang dan pergi dari satu tempat ke tempat lain. Mereka tak hanya membawa diri, melainkan juga cerita, tradisi, hingga rahasia dapur. Hasil penelusuranku mencatat, kari ternyata bukanlah makanan asli Melayu. Dia adalah pengaruh cita rasa yang dibawa pedagang India dan Arab yang kala itu datang ke Indonesia untuk berdagang, hingga akhirnya sebagian dari mereka menetap dan berbaur dengan warga lokal.


Bisa jadi kaum imigran itu rindu dengan masakan kampung halaman mereka. Karena ternyata bumbu rempah yang ditemukan di Asia Tenggara tak jauh berbeda dengan di rumah mereka, jadilah mereka pun memasak makanan kampung halaman. Resep ini kemudian diteruskan ke generasi berikut, dan mengalami beberapa perubahan karena terus disesuaikan dengan lidah Melayu Asia Tenggara.


Resep kari yang tersaji hari ini merupakan hasil difusi kompleks dari berbagai unsur kebudayaan sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan sampai sekarang, proses difusi itu masih terus berlangsung seiring dengan perubahan selera lidah-lidah generasi yang semakin berani menyusuri dan bereksperimen dengan beragam bahan makanan. Seiring waktu, sepiring kari akan selalu menemukan identitas barunya walau bahan dasarnya masih selalu sama.


Dengan semakin cepatnya manusia terhubung oleh teknologi informasi digital dan transportasi supersonic, arus perpindahan manusia menjadi tak terelakkan. Sepiring kari akan dengan mudah ditemukan di mana saja. Walau tentu rasanya bisa jadi berbeda karena beragam proses penyesuaian agar bisa diterima oleh lidah warga lokal.


Persatuan Dalam Sepiring Kari

Entah ke manapun kita pergi, makanan akan selalu diterima dengan keterbukaan. Bahkan mungkin makanan bisa menjadi sarana diplomasi manusia antar-bangsa untuk meminimalkan perbedaan kepentingan.


Dalam sepiring kari, ada jahe yang pahit. Ada merica yang pedas. Ada daun jeruk yang wangi. Dan ada beragam bahan lain yang memiliki asin, manis, dan baunya sendiri. Tapi ketika dicampur dengan takaran pas dan diolah dengan baik, yang terjadi adalah sepiring makanan enak yang membuat perut dan hati bahagia.


Setiap bumbu berdiri sendiri dengan rasanya yang pahit, manis, dan asam. Jika bumbu bisa bersatu menjadi masakan yang enak, mengapa manusia tidak bisa bersatu? Sumber: Wix

Jika manusia bisa mencampur beragam rasa asin, pahit, getir, dan manis untuk menghasilkan makanan lezat, mengapa hal itu tak bisa dilakukan dalam interaksi sosial manusia? Kenapa perbedaan gender, warna kulit, hingga suku menjadi pemisah kemanusiaan?


Mari kita terbuka dan blak-blakan. Sampai hari ini masih ada sentimen rasisme terhadap ras minoritas keturunan Cina. Tapi dari mereka-lah kita mengenal nasi goreng yang menjadi sarapan favorit sebagian besar orang Indonesia hari ini. Belum lagi bakmi yang kerap menjadi makanan favorit sore-sore kala hari hujan.


Ada juga prasangka lain terhadap suku-suku lain. Sebut saja suku Minangkabau yang selalu diidentikkan dengan kepelitan dan keegoisan. Namun dari mereka Indonesia menjadi terkenal sebab rendang Padang pernah ditahbiskan menjadi makanan terenak se-dunia. Ya, bicara tentang prasangka terhadap manusia lain tidak akan ada habisnya. Artikel ini tidak ingin bicara terlalu dalam tentang prasangka.


Oke oke.. Tentu saja kompleksitas manusia itu tidak bisa dibandingkan dengan peleburan bumbu masakan. Manusia adalah produk dari proses sosialisasi antara manusia lain dengan lingkungan, tingkat pendidikan dan pengetahuan, konsumsi media, sejarah serta pengalaman hidup, dan tradisi budaya. Sedangkan bumbu tak akan berubah rasa. Cabe tetap akan pedas meski diletakkan dalam wadah yang sama dengan gula aren. Seorang sosialis akan bisa berubah pendapatnya tentang kapitalisme meski baru tiga bulan tinggal di Manhattan.


Baiklah. Kemanusiaan ternyata memang lebih kompleks. Pendidikan tinggi dan pergaulan dengan orang-orang yang toleran tidak serta-merta akan mengubah dunia menjadi lebih damai, sebab manusia adalah mahluk yang memiliki hierarki.


Hierarki menyebabkan kedudukan laki-laki selalu dipandang lebih tinggi dari perempuan.

Hierarki memunculkan supremasi warna kulit yang menganggap kulit berwarna tidak memiliki keistimewaan dengan kulit putih.

Hierarki memunculkan sentimen bahwa pribumi lebih layak memiliki lahan dan akses ekonomi lainnya ketimbang kaum pendatang (tapi sentimen ini menjadi positif dalam melawan penjajahan era kolonialisme).


Sedang makanan tak mengenal hierarki, sebab semua bahan memiliki kedudukan setara dalam menjadikan makanan lezat meski dengan takaran berbeda.



Love,

Elle Zahra

28 views

©2020 by Elle Zahra