Menjaga Kesehatan Mental Selama #dirumahaja

Tak terasa sudah hampir sebulan terhitung sejak pertama kali Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya warga Indonesia yang positif Covid-19 pada 2 Maret lalu. Berbagai himbauan dan aksi telah dicanangkan sejak saat itu. Salah satunya adalah dengan membatasi kegiatan di luar ruangan, baik dengan melakukan physical distancing hingga penerapan #stayathome (#dirumahaja) dengan cara belajar, bekerja, dan beribadah yang semuanya dilakukan dari rumah.


Mulai banyak kantor dan instansi yang meliburkan pegawainya. Kantor yang tak bisa menerapkan kebijakan tersebut diminta untuk menyiapkan sejumlah 'perangkat keamanan' agar meminimalisir penularan virus Corona terhadap karyawannya. Sejumlah tempat wisata dan pusat perbelanjaan mulai ditutup dan hanya memberi akses terbatas untuk berbelanja di supermarket yang menyediakan kebutuhan pokok.


Berdiam diri di rumah selama beberapa waktu memang (saat ini) menjadi salah satu cara paling ampuh untuk memutuskan rantai penyebaran Covid-19. Seringkali penderita virus ini tidak mengalami sakit. Namun ternyata dia sudah terjangkit virus dan malah berperan menularkan ke orang lain yang berpotensi terkena Corona karena daya tahan tubuh yang tidak kuat. #dirumahaja merupakan pilihan terbaik justru supaya orang-orang sehat lainnya tidak tertular.


Walau menjadi pilihan terbaik untuk mencegah penularan virus Corona, #dirumahaja ternyata berpotensi dalam memperburuk kesehatan mental seperti munculnya kebosanan, timbul rasa khawatir akibat penyebaran hoax Covid-19 di media sosial, kesendirian akibat terisolasi dari pergaulan sosial, hingga stres melihat reaksi kepanikan atau ketidakacuhan banyak orang.


Di rumah saja terbukti bisa memicu rasa takut berujung depresi yang berkepanjangan. Takut akan kehilangan mata pencaharian dan pendapatan. Takut akan kehabisan kebutuhan pokok yang diborong secara membabi-buta. Takut kehilangan teman. Takut kehilangan eksistensi di media sosial. Takut jadi gemuk karena praktis #dirumahaja mengurangi kegiatan fisik dan bikin jadi doyan makan dan ngemil. Serta masih banyak lagi takut yang bermunculan akibat berdiam di rumah.


Semua pemikiran negatif yang berkelebat di dalam pikiran dapat mengganggu kesehatan mental. Masih banyak yang beranggapan rasa stres adalah sesuatu yang biasa karena dianggap bukan penyakit yang berat seperti jantung koroner, kanker, dan lainnya.


Namun bila dibiarkan berlarut, stres bisa memicu tindakan ekstrem seperti perasaan ingin menyakiti diri dan orang lain. Tak hanya itu, kepanikan dan ketakutan tanpa sebab juga bisa melemahkan imunitas tubuh sehingga lebih rentan dihinggapi oleh virus dan penyakit lainnya. Oleh sebab itu, menjaga agar tetap bahagia adalah hal terpenting yang harus diperhatikan di tengah situasi pandemi tak menentu ini.


Para Pemicu Kebahagiaan

Kebahagiaan pada dasarnya adalah proses kimiawi yang terjadi dan dipengaruhi oleh otak. Proses ini disebabkan oleh kinerja hormon yang memicu perasaan bahagia, excited, dan penghargaan terhadap diri.


Ada empat hormon yang bisa meningkatkan rasa bahagia. Jadi, tugas sederhana selama berdiam diri di rumah adalah memicu reaksi empat hormon berikut ini agar bisa terus bahagia.


1. Dopamine, dikenal juga sebagai feel-good hormone yang mampu meningkatkan sensasi kepuasan dan kesenangan.

2. Serotonin, sebagai hormon yang mampu mengatur mood baik dan meningkatkan rasa bahagia.

3. Oksitosin, merupakan hormon cinta.

4. Endorfin, sebagai penyembuh alami ketika merasakan sakit atau cemas berlebihan.


Cara Mengaktifkan Hormon Kebahagiaan

Berikut adalah beberapa tips untuk mengaktifkan hormon bahagia selama berdiam diri di rumah:


Berolahraga

Selain untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan daya tahan tubuh dalam melawan penyakit, olahraga juga mampu mengaktifkan hormon dopamin dan serotonin yang memberikan rasa bahagia dan good mood.


Kamu bisa mengunduh aplikasi workout lewat Google Play atau AppStore yang semua gerakannya tidak membutuhkan peralatan khusus sehingga bisa dilakukan di rumah. Perlu diingat juga, berolahraga juga tidak boleh berlebihan. Olahraga yang berlebihan malah menyebabkan stres dan meningkatkan resiko cedera. Waktu yang tepat berolahraga adalah 20-30 menit dalam sehari, dan jangan lebih dari lima hari dalam seminggu.


Workout selama di rumah


Meningkatkan Jarak Intim dengan Orang Tercinta

Selama di rumah, sisi positif yang bisa didapatkan adalah mendekatkan diri dengan anggota keluarga yang selama ini mungkin jarang dilakukan akibat kesibukan pekerjaan. Mengobrol sambil berpelukan dengan anak, suami, dan orang tua akan mengaktifkan hormon oksitosin.


Tertawa bersama sahabat juga bisa memicu hormon cinta tersebut. Walau physical distancing sedang diterapkan, video call masih bisa dilakukan, atau sekedar mengirim chat di WhatsApp, komentar lucu di postingan media sosial, hingga mengikuti challenge yang melibatkan teman-teman di Instagram seperti #untiltomorrow.


Jika sudah menikah, hubungan seksual merupakan aktivitas fisik paling menyenangkan yang dapat memicu kebahagiaan. Berciuman, berpelukan, hingga sexual intercourse tidak hanya meningkatkan oksitosin, melainkan juga melepaskan hormon endorfin dan dopamine yang memberikan rasa kepuasan.


Lupakan Diet Sejenak dan Mari Makan-Makan

Sering kita jumpai jika orang yang mengalami stres atau marah akan melampiaskannya lewat makan dalam porsi yang banyak. Makan memang mampu melepaskan hormon endorfin untuk menyembuhkan luka batin, terutama apabila mengonsumsi makanan yang pedas-pedas.


Tetap harus diperhatikan untuk selalu mengonsumsi makanan sehat agar nutrisi tetap terjaga. Dengan demikian kondisi pencernaan tidak terganggu. But still, tidak ada salahnya dalam beberapa waktu membiarkan diri makan dengan porsi lebih banyak dan melupakan diet sejenak.


Membuat Target dan Pengerjaan Proyek Pribadi

Memberikan target bagi diri sendiri bisa menumbuhkan rasa ketagihan yang pada akhirnya memicu pelepasan hormon dopamine ketika berhasil menyelesaikan target tersebut. Salah satu target dan project yang bisa dilakukan oleh seorang blogger di rumah tentunya adalah dengan riset dan menulis.


Selain membuat target tulisan, secara pribadi aku juga menargetkan jumlah buku yang harus dibaca selama sebulan, dan juga sempat terpikir untuk mulai belajar bahasa asing baru secara online. Apapun itu, target yang ingin dicapai haruslah hal yang paling disukai agar tidak muncul beban saat proses pengerjaannya. Kalau jadi beban, ya akirnya malah stres.


Beribadah

Bagi umat beragama, beribadah mampu memberikan rasa tenang dan nyaman seperti bermeditasi. Rasa rileks dan penyerahan diri kepada Tuhan saat beribadah ini mampu memicu hormon dopamine dan membantu meningkatkan kualitas tidur sehingga mengurangi stres.


Lakukan Aktivitas Favorit

Selama di rumah, aktivitas yang dilakukan memang cukup terbatas. Namun tidak berarti kita tidak bisa menjadi kreatif.



#dirumahaja justru meningkatkan daya imajinasi. Aku membayangkan diriku seperti Mohammad Hatta yang diasingkan ke Boven Digoel bersama Sutan Sjahrier dengan membawa beberapa koper buku untuk teman pelipur hati. Terkadang aku juga mengandaikan seperti R.A Kartini yang menjalani masa pingitan, dan hanya punya buku serta semangat menulis untuk tetap menjaga intelektualitas dan kewarasannya.


Selain menulis dan membaca, memasak juga menjadi aktivitas favorit yang bisa dilakukan selama di rumah. Melakukan aktivitas favorit akan memicu peningkatan hormon serotonin yang menjadikan dirimu good-mood seharian.



So Gorgeous, tetap semangat #dirumahaja dan selalu bahagia. Jangan ke mana-mana dulu jika memang tidak ada hal penting yang harus dilakukan. Tahan keinginan untuk nongkrong, mudik, arisan, dan lainnya yang melibatkan pertemuan banyak orang agar kita bisa memutus rantai penyebaran Covid-19 dengan segera. Jangan egois! Walau kamu sepertinya tidak sakit, tapi kamu bisa jadi menularkan virus Corona ke orang-orang tercinta. Bersabarlah!


Stay healthy, keep fit, and be happy always to stop Corona virus spreading.


Love,

Elle Zahra

47 views

©2020 by Elle Zahra