Masih Pentingkah Kosmetik Cruelty Free?

Telah setengah tahun berlalu sejak kali terakhir aku membeli kosmetik. Ketika pandemi Covid-19 mendera Indonesia pada awal Maret 2020 lalu, sontak semua aktivitas di luar rumah terhenti. Semua jadwal meeting beralih ke depan layar gawai dan dilakukan dari rumah saja.


Secara otomatis, kebutuhan untuk tampil chic, fashionable, lengkap dengan riasan yang dewy look bukan merupakan prioritas meski saat harus conference meeting. Riasan sederhana selama masa karantina hanya mengandalkan moisturizer, concealer, blush-on, dan lipstik dengan warna sedikit pink atau nude. Sedang untuk baju hanya menggunakan jilbab monotone dan cardigan dengan atasan senada.


Perawatan skin care tetap menjadi perhatian. Tapi ketika wabah virus Corona mendera, kulit kusam dan berjerawat tak lagi menjadi misi utama. Yang penting, bagaimana caranya tubuh ini bisa bebas kuman. Tak ayal akhirnya semua produk yang mengklaim sebagai "anti-kuman" hingga "perlindungan tubuh terhadap segala jenis virus dan bakteri" menjadi buruan pada masa itu.


Sayangnya sejumlah produk anti-kuman yang cepat dan mudah didapat di Indonesia tidak memiliki label cruelty free serta tidak bersertifikasi PETA. Padahal sejak tahun lalu, diri ini sudah berkomitmen untuk terus menggunakan produk cruelty free.


Aku sempat merasa berdosa untuk memakai produk yang jelas-jelas kuketahui tidak cruelty free. Namun apa daya, rasa cemas dan paranoid jika ada virus Corona yang menempel di tubuh jauh lebih kuat, sehingga produk anti-kuman tersebut jauh lebih penting untuk saat ini dibanding mengedepankan sentimen dan rasa bersalah terhadap pemakaian produk yang non-cruelty free.


Kemudian pada suatu hari tak terduga, story Instagram sahabatku @vetbarista memuat teaser podcast tentang animal loving. Pas sekali karena dia juga seorang dokter hewan, maka diskusi panjang yang berujung pada kosmetik cruelty free pun tak terelakkan.


Memenuhi Hak Kesejahteraan Hewan

Menurut drh. Muhammad Reza Ramadhani, penggunaan hewan di laboraturium untuk uji coba kosmetik dan obat-obatan pada dasarnya sangat diperlukan, sehingga produk tersebut nantinya bisa aman dikonsumsi oleh manusia.


Namun penggunaan hewan laboraturium harus mengikuti prosedur dan standar yang ketat sebab harus menjamin kesejahteraan dan kehidupan hewan tersebut sampai mati. Ketika hewan-hewan tersebut juga harus "dimatikan" setelah proses uji coba, harus dipastikan jika hewan-hewan itu tidak mengalami proses kematian yang menyakitkan.


Sempat terbersit rasa iba di hati ketika Dokter Reza menyebutkan frasa "dimatikan tanpa proses menyakitkan". Tetap saja rasanya tak adil mengorbankan hewan-hewan itu demi kepentingan manusia. Teringat pernyataan Yuval Noah Harari di bukunya Sapiens, apakah ras manusia merasa begitu superior sehingga boleh saja menggunakan hewan untuk kepentingan pribadi? Apalagi dalam industri kosmetik ini tujuannya adalah untuk mempercantik diri.


Dan Dokter Reza menjawab kegundahan ini dengan pernyataan menyejukkan, bahwasanya ada beberapa jenis hewan yang memang diciptakan untuk dimanfaatkan manusia. Sapi yang bisa diambil susunya; kuda yang dimanfaatkan sebagai salah satu bentuk transportasi; ayam yang diternakkan untuk mendapatkan telurnya. Maka hati ini tak perlu gulana ketika ada tikus yang dijadikan hewan uji coba.


Lebih jauh Dokter Reza mengungkapkan, sebenarnya yang paling perlu diperhatikan adalah tentang kesejahteraan hewan (animal welfare). Menurut American Veterinary Medical Association, hewan dikatakan sejahtera apabila kebutuhannya terjaga, seperti cukup nutrisi, merasa aman dan nyaman, memiliki hunian yang pantas, serta tetap tersalurkan juga kebutuhan seksualnya. Kesehatan mental hewan juga harus dijaga dari rasa sakit, takut, dan cemas.


Apapun statusnya, baik sebagai hewan peliharaan ataupun hewan uji coba, haruslah mengutamakan aspek kesejahteraan hewan ini. Khusus untuk hewan yang digunakan di laboraturium, penghindaran dari rasa sakit dan cemas adalah aspek utama yang harus dipenuhi sebelum melakukan uji coba.



Well... Perasaan ini sebenarnya masih meragu untuk switch ke produk yang non-cruelty free. Meski bagaimanapun juga, pemanfaatan hewan untuk diambil daging dan susu sepertinya sangat jauh berbeda dibanding digunakan sebagai percobaan sains. Tapi kabar baiknya, brand terkenal untuk kosmetik lokal dan internasional yang masih menerapkan uji coba hewan setidaknya memenuhi ketetapan dalam memperhatikan kesejahteraan hewan laboraturium. Setidaknya yang bisa kusarankan adalah, pastikan brand kosmetikmu memang sudah menerapkan prosedur ketat ketika melakukan uji coba terhadap hewan.


Sedang aku sendiri sepertinya tidak akan bisa beralih ke produk yang non-cruelty free. Bukan karena sekarang aku telah menjadi aktivis animal freedom. Tapi karena aku sudah berada dalam zona nyaman yang tidak mau aku tinggalkan. Seperti aku padamu. #ehgimana



Love,

Elle Zahra

33 views

©2020 by Elle Zahra