Ketika Tubuh Dipersalahkan Sebagai Penyebab Kejahatan Seksual

Tubuh!


Kerap kali tubuh menjadi objek yang dipersalahkan sebagai penyebab terjadinya pemerkosaan. Entah dengan alasan baju yang dipakai memperlihatkan lekuk tubuh, atau beberapa bagian tubuh tertentu dibiarkan terbuka. Intinya tubuh dikambinghitamkan sebagai sebuah undangan terbuka bagi predator seksual untuk melakukan kejahatan pemerkosaan.


Padahal kejahatan pemerkosaan sama sekali tak berhubungan dengan bentuk tubuh, serta tertutup atau terbukanya bagian tubuh. Pemerkosaan terjadi karena selalu disertai keinginan salah satu pihak (si pemerkosa) untuk terlihat dominan dan berkuasa di hadapan korban. Oleh karenanya kejahatan seksual tak melulu berkaitan dengan birahi, melainkan tentang siapa yang memiliki power untuk menindas dan melakukan pemaksaan kepada salah satu pihak pada saat berhubungan seksual.[1]


Patriarki: Legalisasi Dominasi Laki-laki Untuk Memperkosa

Kejahatan seksual terjadi karena adanya ketimpangan dalam kedudukan sosial yang mendarah daging dalam kultur patriarki. Dalam konteks patriarki yang meletakkan kedudukan laki-laki serba di atas kaum perempuan, maka perempuan diposisikan tak lebih sebagai subordinat yang harus berada di bawah laki-laki. Akibatnya muncul rasa kekuasaan atas diri perempuan yang dianggap memiliki kedudukan lebih rendah dalam strata sosial.[2]


Perasaan berkuasa dalam relasi seksual ini tidak hanya terjadi pada perempuan dewasa, melainkan juga terjadi pada anak-anak perempuan dan laki-laki. Meskipun anak laki-laki, kedudukan sosial mereka masih lebih rendah dibandingkan laki-laki dewasa, sehingga anak-anak laki-laki pun berpotensi mengalami kejahatan seksual pedofilia.[3] Hal yang sama pun terjadi pula pada penyandang disabilitas yang sulit melawan pelecehan dan kekerasan seksual karena terbatasnya kemampuan fisik mereka.[4]


Kentalnya budaya patriarki telah mengonstruksikan laki-laki sebagai mahluk dominan sebab telah ‘dilegalkan’ lewat religious scriptures, hukum adat, hingga undang-undang yang kurang/tidak berpihak pada perempuan sehingga muncul pemakluman terhadap tindakan agresif pria. Sedangkan perempuan adalah mahluk lemah lembut yang harus menuruti keinginan laki-laki, terutama dalam relasi seksual. Ketika perempuan melawan, dia akan dianggap liar dan telah menyalahi kodratnya sebagai mahluk yang lembut.


Rape Culture Sebagai Suatu Kewajaran

Bahwasanya segala tindak-tanduk perempuan lah yang harus dibatasi demi mengurangi kasus kejahatan seksual, sedangkan laki-laki dengan segala gairahnya tidak perlu disalahkan.[5] Sebab perempuan memang dituntut untuk melakukan hal-hal yang bersifat domestik dan tak melulu berada di luar. Bila perempuan berada di ruang publik dan secara sadar mengumbar tubuhnya, maka menjadi wajar jika birahi laki-laki timbul dan kemudian berkeinginan memperkosa.


Dalam masyarakat dengan sistem budaya patriarki yang kental, rape culture[6] adalah sesuatu yang alamiah dengan menyalahkan perempuan sebagai alasan untuk diperkosa, alih-alih munculnya upaya melindungi hak-hak perempuan dari tindakan pemerkosaan.


Rape culture menjadi sebuah siklus yang meneror perempuan agar membatasi diri di ruang publik, baik itu cara berpakaian hingga jam keluar rumah. Perempuan yang terlalu banyak berada di luar rumah akan dicap sebagai perempuan bergajul, sehingga demikian tak mengherankan jika ada laki-laki yang memperkosanya.


Tidak ada yang salah pada tubuh perempuan sehingga patut disematkan sebagai dasar kejahatan pemerkosaan. Jika masyarakat ingin mengutuki sesuatu, hal itu adalah otak patriarkis yang masih mengikuti pola pemikiran manusia zaman batu, di mana ketakutan terhadap dunia menyebabkan mereka bersembunyi di dalam gua gelap.


Seperti itulah masyarakat patriarkis yang takut terhadap kejahatan pemerkosaan. Ketimbang melindungi hak-hak perempuan dan menghukum si pemerkosa, masyarakat malah “mengurung” dan membatasi kebebasan perempuan dalam berekspresi dan berkarya.


Stop Blaming the Victim!

Maraknya kejahatan seksual yang terjadi di negeri ini bukan hanya disebabkan oleh kegoblokan masyarakat patriarkis dalam memandang tubuh perempuan. Penyebab lain yang mendorong para pemerkosa merasa tak berdosa melakukan kejahatannya adalah karena para korban takut untuk melaporkan kekerasan seksual yang mereka alami.


Lagi-lagi, karena citra perempuan dalam masyarakat patriarki yang memposisikan tubuh perempuan sebagai godaan birahi lelaki, korban pemerkosaan justru merasa malu untuk melaporkan kejahatan seksual yang dialaminya. Sebab korban sudah membayangkan jika dirinya akan dihujat masyarakat sebagai perempuan binal. Tentunya hal ini juga berimbas pada nama baik keluarga yang malah memandang korban pemerkosaan sebagai aib.


Justru salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kejahatan seksual adalah dengan berhenti menyalahkan perempuan sebagai penyebab terjadinya pemerkosaan. Dengan demikian, korban pemerkosaan memiliki keberanian untuk melaporkan kekerasan seksual yang mereka alami tanpa adanya embel-embel justifikasi atau prasangka dari masyarakat.


Selain itu berhenti pula memaklumi “naluri pria” yang mudah terangsang ketika melihat tubuh perempuan. Jangan menaruh otak di selangkangan, sehingga tidak ada landasan apapun yang memperbolehkan laki-laki untuk memuaskan nafsunya lewat pemerkosaan.


Tidak ada seorang pun yang secara sengaja mengumbar dirinya agar diperkosa. Karena itu berhenti menyalahkan penampilan tubuh perempuan! Bukan tubuh perempuan yang salah, tapi otak dan selangkangan yang eror merupakan penyebab terjadinya kejahatan seksual.




[1] Soe Tjen Marching, Seks,Tuhan,& Negara. Manado: Globalindo. (2020) [2] https://www.cnnindonesia.com/internasional/20140910100910-114-2897/pemerkosaan-dominasi-pria-terhadap-wanita [3] https://scholar.google.co.id/scholar?q=anak+laki-laki+korban+pedofilia&hl=en&as_sdt=0&as_vis=1&oi=scholart#d=gs_qabs&u=%23p%3DdWUGwrmRenIJ [4] https://magdalene.co/story/nasib-di-ujung-tanduk-penyandang-disabilitas-korban-kekerasan-seksual [5] https://www.vox.com/2014/12/15/7371737/rape-culture-definition [6] https://www.marshall.edu/wcenter/sexual-assault/rape-culture/

8 views0 comments